Tampilkan postingan dengan label Dakwah wa Tabligh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah wa Tabligh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2015

Berbuka dengan Bidadari

Kisah Sa’id bin Harits Berbuka Puasa Bersama Bidadari
Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.
Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.
Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’
Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.
Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’
Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’
Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yang tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”
Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”
Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah sebuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.
Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karena Dia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Apakah ada orang lain yang bermimpi seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahasiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”
Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia membabat musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidak mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….

Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.
Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yang tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki shaleh itu, yaitu Sa’id bin Harits. Allahu a’lam

Jumat, 19 September 2014

Siapa yang lebih penting




Tentang seseorang yg menjadi pilihan hidup kita: “Orang selalu berkata ada bekas Istri atau bekas Suami, tapi tdk ada bekas anak dan bekas orang tua.” Mungkin cerita bijak berikut ini dpt merubah pandangan tsb & mmbuat seseorang ingin memiliki suami atau istrinya sampai akhir hayat dan mikir 1000kali untuk menyakiti hatinya dan menduakan cintanya dengan yang lain.

Seorang dosen mengadakan permainan kecil kepada mahasiswanya yg sudah berkeluarga & meminta 1 orang maju ke papan tulis.

Dosen : “Tulis 10 nama yg paling dekat dgn anda.”

Lalu mahasiswa tsb menulis 10 nama. Ada nama Tetangga,Orang tua,Teman kerja,Istri,Anaknya dsb.

Dosen : “sekarang silahkan pilih 7 diantaranya yang sekiranya anda ingin hidup terus bersamanya”.

Lalu mahasiswa itu mencoret 3 nama.

Dosen : “coret 2 nama lagi”, dan tinggallah 5 nama.
Dosen : “coret lagi 2 nama”, maka tersisalah 3 nama yaitu : Orang tua,Istri & Anaknya.

Suasana kelas hening. Mereka mengira smua sudah selesai & tak ada lagi yg harus dipilih.

Tiba-tiba Dosen berkata :”silahkan coret 1 nama lagi !”, mahasiswa itu pun prlahan mngambil pilihan yg amat sulit lalu mencoret nama orang tuanya secara perlahan.

Dosen :”silahkan coret 1 nama lagi !”. Hati sang mahasiswa menjadi bingung. Kemudian mengangkat kapur & lambat laun mencoret nama anaknya dan mahasiswa itupun menangis.

setelah suasana tenang sang Dosen bertanya pada Mahasiswa itu. “Kau tidak memilih Orang tua yg membesarkanmu ? tidak juga memilih Anak yang berasal dari darah dagingmu? sedang Istri itu bisa dicari lagi.”

Smua orang di dalam kelas terpana mnunggu jwaban dari Mahasiswa itu.

Lalu sang Mahasiswa itu berkata, “Seiring waktu berlalu, Orang tua saya akan pergi & meninggalkan saya, sedang Anak jika sudah dewasa menikah lalu pergi meninggalkan saya juga. Sedangkan yg benar-benar menemani saya dalam hidup ini hanyalah ISTRI saya. Orang tua & anak bukan saya yg memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan, sedang ISTRI, sayalah yg memilih dan dengan izinNya. istri adalah bagian dari diriku, karena dia adalah tulang rusukku…..

* Bukan berarti anak dan orang tua adalah tidak penting tapi untuk merubah pandangan bahwasanya kita harus selalu menghargai pasangan, saling menyayangi, menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan dan jangan rusak ikatan pernikahan hanya karena tergoda oleh orang ketiga dan menuruti hawa nafsu duniawi saja. Suami/istrimu adalah pilhanmu, ayah dan ibu dari anak-anakmu. — sendirian .
........Semoga bermanfaat........

Kamis, 18 September 2014

TENTANG KUCING, TERNYATA SELAMA INI


Ternyata selama ini kita sudah di bodohi oleh mitos kedokteran
tentang kucing.. Dunia kesehatan mengatakan bahwa kucing itu
berbahaya, mulai dari bulunya hingga air liurnya..
Hal ini dibarengi dengan politik XXI untuk mengangkat citra Anjing..
Dan sehingga, orang yang menonton XXI akan berpandangan
bahwa Anjing itu binatang yang sehat dan bersahabat..
Namun, bagaimanakah fakta sebenarnya??
Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama
Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya,
ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas
jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi
pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.
Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk
sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih
sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu
sebanyak tiga kali.
Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya,
nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah
satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika
mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti
mengikuti lantunan suara adzan.
Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing
peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.
Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah
serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang
seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan
tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi
Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini
adalah siksa neraka.
Dari Ibnu Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai,” (HR. Bukhari).
Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis.
Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas
minum kucing karena dianggap suci.
Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan
bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui
kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?
Keistimewaan Kucing
Fakta Ilmiah 1 :
Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur
bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan
otot manusia. Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai
benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut
seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk
membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun
cairan yang jatuh dari lidahnya.
Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.
Fakta Ilmiah 2 :
Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai
perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam
telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan.
Di samping itu,
dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus.
Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam
mulut dan lidahnya.
Hasil yang didapatkan adalah :
1. Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman,
meskipun dilakukan berulang-ulang.
2. Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif
sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
3. Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil
negatif berkuman.
4. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian,
kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman
biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang
terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus.
Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
5. Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.
6. Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian
laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman
dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.
Komentar Para Dokter Peneliti
- Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit
Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah
kucing.
- Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.
- Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak
terdapat pada anjing,
- Manusia 1/4 anjing, kucing 1/2 manusia.
- Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah
menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang
bemama lysozyme.
- Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat
subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air
(lumpur, genangan hujan, dll)
- Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia
tidak banyak berjemur dan tidak dekat-dekat dengan air.
- Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang
menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.
Fakta Ilmiah 3 :
Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.
Fakta Ilmiah Tambahan :
Zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi.
Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.
Sisa makanan kucing hukumnya suci.
Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu
Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan
air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin
minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu
minum.
Kabsyah berkata, “Perhatikanlah. ” Abu Qatadah berkata, “Apakah
kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan
bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu,
beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.
Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya
Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori
sesuatu, bahkan tidak ada najis.”
Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang
menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk
bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah
sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya.
Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.
Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut.
Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu
membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah
memakannya.
Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang
berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari
sisa jilatan kucing.” (H.R AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-
Daruquthni).
Hadis ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain.
Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan
membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia.
Mungkin ini pula-lah mengapa Rasulullah SAW sangat sayang
kepada Muezza, Kucing kesayangannya. [islampos/berbagai sumber]
Subhanallah...
Ada 2 pilihan untuk Anda:
1. Biarkan di dalam FB, catatan atau pikiran Anda tanpa bermanfaat untuk orang lain.
2. Anda sebarkan pada semua kenalan anda. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala
khazanah trans 7...

Kamis, 11 September 2014

Doa Anti Galau



Rasulullah pun bersabda : “ketika pagi dan sore hari, ucapkanlah doa berikut :

"Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal hazani.
Wa a’udzubika minal a’jzi wal kasali.
Wa a’udzubika minal jubni wal bukhli,
wa a’udzubika min gholabatid daini wa qahrir_rijaali..

Bacalah doa tersebut, niscaya Allah menghilangkan rasa galau dari dirinya. (HR.Abu Dawud)

ARTINYA :
"Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari kegalauan dan kesedihan,
dan aku berlindung kepada Engkau dari sikap lemah dan malas,
dan aku berlindung kepada Engkau sifat pengecut dan pelit,
dan aku berlindung kepada Engkau daripada lilitan utang dan kekerasan orang lain (terhadap diriku)"

Semoga dengan satu hadist ini, kita jadi gak galau lagi, cuma dengan mindset yakin bahwa doa ini diijabah, mudah-mudahan galaunya ga bertahan lama . Amin

Kamis, 06 Juni 2013

Kerja Masturoh

BAYAN KERJA MASTUROH
Usaha dakwah adalah tanggung jawab kita baik laki-laki maupun wanita tanpa kecuali. Dalam kerja dakwah mutlak kita harus melibatkan istri-istri dan wanita-wanita kita. Dalam kerja dakwah tidak cukup dengan anggapan yang penting istri kita sudah memperbolehkan kita ikut usaha dakwah saja, atau yang penting istri kita sudah senang dengan usaha dakwah , karena yang sesungguhnya diharapkan dari kita para pria adalah bagaimana kita membawa istri-istri dan wanita-wanita ahli keluarga kita supayah terlibat dan terjun langsung didalam usaha dakwah ini.
Seperti kita sering dengar begitu pentingnya wanita-wanita dilibatkan dalam usaha dakwah karena kalau kita mau melihat pada kenyataan yang ada jumlah wanita lebih banyak dari jumlah laki-laki mungkin bisa satu kali lipat atau dua kali lipat jadi kalau hanya laki-laki saja yang ambil bagian dalam usaha dakwah ini artinya baru 25% usaha kita untuk mencapai keberhasilan dalam dakwah , tetapi kalau wanita-wanita dan istri-istri ikut terlibat dalam usaha dakwah ini maka keberhasilan bisa betul-betul mencapai 100%.
Kita juga dapat melihat bahwasanya anak-anak fitrahnya lebih dekat kepada ibu, karena memang sehari-hari waktu mereka habiskan dengan ibu-ibu mereka, sedangkan bapak-bapak mereka sibuk di luar rumah, baik untuk bekerja maupun untuk yang lainnya, sehingga anak-anak kita ini selama 24 jam waktunya akan di habiskan untuk berkumpul bersama ibunya.

Sabtu, 23 Februari 2013

Siapa Perumus Syair “Tombo Ati iku Limo Perkarane”?








SYAIR “Tombo Ati” alias obat hati yang berjumlah lima amalan ibadah adalah syair berbahasa Jawa yang populer secara turun-temurun. Syair yang berisi nasihat ini semakin booming setelah masuk ke dunia rekaman yang dilantunkan seniman Muslim Emha Ainun Najib dan dilanjutkan oleh penyanyi Opick dengan versi bahasa Indonesianya.

Jumat, 22 Februari 2013

Penelitian tentang Jamaah Tabligh






IKLAN




PENELITIAN IAIN TENTANG DAKWAH JAMAAH TABLIGH

Syeikh Muhammad Ilyas Kandahlawi (1885-1944 M) pendiri Jama’ah Tabligh dilahirkan di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India. Ia adalah pengikut tariqat Chistiyyah dari cabang Sabiriyyah, namun ia tidak bergantung kepada ajaran tariqat ini saja melainkan turut memanfaatkan ajaran dari tariqat lain seperti Naqshabandiyyah, Qadiriyyah dan Suhrawardiyyah. Ayahnya bernama Syaikh Muhammad Ismail adalah seorang ruhaniwan besar dan seorang penganut tasawwuf yang sangat abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi terlalu disibukkan dengan urusan dunia yang suka menjalani hidup dengan ber-uzhlah, berkhalwat dan beribadah, membaca Alquran serta mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu agama. Ibunya bernama Shafiyah Al-Hafidzah adalah seorang Hafidzah Alquran. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama. Saudaranya antara lain Maulana Muhammad yang tertua, dan Maulana Muhammad Yahya.

Pada tahun 1351 H/1931 M, ia menunaikan haji yang ketiga ke Tanah Suci Makkah. Kesempatan tersebut dipergunakan untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada di Arab guna mengenalkan usaha dakwah. Sepulang dari haji, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai jamaah dengan jumlah sekitar seratus orang. Dalam kunjungan tersebut ia selalu membentuk jamaah-jamaah yang dikirim ke kampung-kampung untuk ber-jaulah (berkeliling dari rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama. Ia sepenuhnya yakin bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan.

Maulana menghembuskan nafas terakhirnya, ia pulang ke rahmatullah sebelum adzan Shubuh. Ia tidak banyak meninggalkan karya-karya tulisan tentang kerisauannya akan keadaan umat. Buah pikiran ia dituang dalam lembar-lembar kertas surat yang dihimpun oleh Maulana Manzoor Nu’mani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah ini. Sepeninggal Syeikh Muhammad Ilyas Kandahlawi kepemimpinan JT diteruskan oleh puteranya, Syeikh Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917 – 1965 M).

Jama’ah Tabligh muncul di India dilatarbelakanngi keadaan umat Islam India yang saat itu sedang mengalami kerusakah akidah, dan degradasi moral yang dahsyat. Ummat Islam telah tidak akrab lagi dengan syiar-syiar Islam. Di samping itu, juga terjadi pencampuran antara yang baik dan yang buruk, antara iman dan syirik, antara sunnah dan bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terlah terjadi gelombang pemusyrikan dan pemurtadan yang didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol menjajah India.

Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang sangat besar berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan menghujat ajaran-ajarannya dan mendiskreditkan Rasulullah saw. Bagaimana membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.

Maulana Muhammad Ilyas menghawatirkan kondisi umat, khususnya di daerah Mewat yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam dan mengarah kepada kondisi masyarakat jahiliah yang ditandai antara dengan:

Kemusyrikan

Meninggalkan ibadah

Mesjid tidak lagi berfungsi sebagai pusat dakwah dan agama

Kerusakan akhlak

Perbuatan maksiat yang semakin menyebar

Hal ini kemudian menguatkan i‘tikadnya untuk berdakwah yang kemudian diwujudkannya dengan membentuk gerakan jama’ah pada tahun 1927 yang bertujuan untuk mengembalikan masyarakat dalam ajaran Islam. Guna menata kegiatan jama’ah ini dibentuklah suatu garis kerja dakwah jama’ah yang disebut hirarki, yang berbeda dari organisasi dakwah lainnya, yang kemudian dikenal dengan gerakan Jama’ah Tabligh.

Dalam Jamaah ini dikenal enam prinsip (doktrin) yang menjadi asas dakwahnya, yaitu:

Kalimah agung (syahadat) atau disebut sebagai Kalimah Ţayyibah.
Menegakkan salât.
Ilmu dan dzikir.
Memuliakan setiap Muslim.
Ikhlas.
Berjuang fisabilillah (keluar/khuruj).

Sejarah awal masuknya Jama’ah Tabligh ke Indonesia terdiri dari dua versi. Versi pertama: menurut Letkol CPM Purn. Ahmad Zulfakar, Jama’ah Tabligh dibawa oleh seorang amir bernama Miaji Isa pada tahun 1952 di Jakarta dan berkembang pada tahun 1974 di Kebon Jeruk. Kemudian berkembang luas ke penjuru nusantara. Versi kedua, Jama’ah Tabligh dibawa oleh Maulana Luthfi ur-Rahman dari Banglades pada tahun 1973 dalam kegiatan Khurujnya keliling Indonesia. Ia singgah di Tanjung Karang, diterima dengan baik oleh pengurus mesjid al-Abror Jl. Pemuda No. 20 Tanjung Karang, Lampung. Kemudian dilanjutkna oleh Dr. Abdul Hay, Dr. Abdul Rasyid, Prof. Dr. Ahmad Sabuur, Dr. Salman dari Universitas Alighard India.

Perkembangan Jama’ah Tabligh di Medan diawali dengan kedatangan Maulana Muhammad Ibrahim (yang sampai saat ini masih tetap menaruh perhatian besar atas perkembangan Jama’ah Tabligh) dari Banglore, India pada tahun 1971. Saat tiba di Medan ia disambut oleh masyarakat Medan dengan baik. Salah seorang yang sangat tertarik dengan tabligh ini adalah Haji Jalaluddin, sehingga dalam menyampaikan dakwahnya Maulana Ibrahim selalu ditemani oleh Haji Jalaluddin. Mereka kemudian membangun Mesjid Hidayatul Islamiyah di jalan Gajah Medan, yang kemudian menjadi pusat/markas Jama’ah Tabligh Medan. Maulana Ibrahim kemudian mencurahkan ilmunya pada Haji Jalaluddin, dan setelah ia yakin bahwa Haji Jalaluddin mampu mengembangkan Jama’ah Tabligh di Medan ia pun kembali ke negara asalnya. Haji Jalaluddin kemudian menjadi amir di Medan. Setelah ia meninggal jabatan amir diteruskan oleh anaknya Haji Badruddin.

Pengembangan dakwah yang berkesinambungan dan terus menerus menghasilkan perkembangan jumlah anggota Jama’ah Tabligh di Medan. Mesjid Hidayatul Islamiyah di jalan Gajah – yang kemudian lebih dikenal dengan Mesjid Jalan Gajah – menjadi sentra perkembangan jama’ah ini. Berbagai halaqah kemudian berdiri diberbagai daerah di Medan dan sekitarnya, misalnya di Tanjung Mulia, Paya Pasir, dan Batang Kuis.

Sampai saat ini sulit untuk memastikan jumlah anggota Jama’ah Tabligh di Medan. Hal ini karena Jama’ah Tabligh tidak mengenal sistem formalitas administrasi keanggotaan. Namun yang jelas anggotanya terdiri dari berbagai tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan mazhab atau aliran.

Struktur keorganisasi yang formal dan mengikat tidak dikenal di Jama’ah Tabligh, susunan keorganisasiannya didasarkan pada hirarki atau garis kerja jama’ah yang terdiri dari:

Hadraji : orang yang dihormati

Majelis syuro dan Zumidar : majelis musyawarah dan penanggungjawab di setiap negara, propinsi, dan kotamadya/kabupaten

Karkun : ahli dakwah pada beberapa mahalla yang senantiasa menghidupkan amal maqomi.

Musyawarah rutin dilakukan oleh setiap halaqah untuk menata kerja dakwah. Keterkaitan antara halaqah sampai tingkat hadraji dihubungkan oleh musyawarah mufakat.

Peraturan dalam Jama’ah Tabligh disebut adab atau ushul da’wah – inilah yang menjadi ciri khas Jama’ah Tabligh – yang meliputi:

Empat hal yang diperbanyak: dakwah, taklim, zikir ibadah, khidmat.

Empat hal yang harus dikurangi: makan-minum yang berlebihan, istirahat/tidur, berbicara yang sia-sia/tidak perlu, keluar/meninggalkan mesjid.

Empat hal yang harus dijaga: hubungan dengan amir dan jama’ah lainnya, amalan infiradi dan jama’I, kehormatan mesjid, sabar dan tahammul (tahan ujian).

Empat hal yang harus ditinggalkan: meminta kepada yang selain Allah, mengharap kepada yang selain Allah, menggunakan barang orang lain tanpa izin, boros dan mubajir.

Empat hal yang tidak boleh dibicarakan: politik, ikhtilaf, pangkat dan kedudukan, kebaikan atau jasa dan aib orang lain/masyarakat.

Aktifitas dan Metode Dakwah Jama’ah Tabligh di Medan

Aktifitas dakwah

Jama’ah Tabligh dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam selalu mengajak orang lain untuk bergabung ke dalam Jama’ah Tabligh. Dakwah mereka sampaikan secara targhib (kabar gembira) yakni dengan memberikan informasi tentang hal-halyang membahagiakan apabila seseorang menjalani kehidupan sesuai dengan jalan Allah. Juga sebaliknya dengan tahrib (ancaman) yakni memberikan informasi tentang bentuk-bentuk penderitaan yang akan dialami seseorang yang keluar dari tuntunan Ilahi. Dari berbagai informan yang penulis temui orang-orang yang kemudian bergabung ke dalam Jama’ah Tabligh merasa peningkatan keimanan dan keislamannya dan meninggalkan perbuatan maksiat dan sia-sia.

Mereka mendakwahkan Islam kepada masyarakat tanpa mempersoalkan aliran, mazhab, dan khilafiah. Memakmurkan mesjid merupakan salah satu aktifitas khas Jama’ah Tabligh yang dilakukan dalam setiap waktu salât, baik saat mereka di rumah maupun saat mereka berdakwah keluar. Jama’ah Tabligh dalam memakmurkan mesjid dengan mengisi amalan mesjid seperti ta’lim wa ta’lum (mengajar dan belajar) yang biasa dilakukan setelah melaksanakan salât wajib. Amalan mesjid yang lain yang mereka lakukan bila mukim di suatu mesjid adalah membaca al-Qur’ân, salât tahajud, salât dhuha, dan lain-lain. Salât berjama’ah dimesjid merupakan amal yang sangat disiplin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh baik saat berdakwah maupun saat di rumah. Pada umumnya sebelum azan mereka sudah datang ke mesjid. Bahkan ada sebagian Jama’ah Tabligh walaupun sedang berada di kenderaan umum mereka akan segera turun untuk ke mesjid bila mereka mendengar azan meski ia belum sampai ke tujuannya. Bagi Jama’ah Tabligh salât berjama’ah hukumnya wajib.

Zikir dan doa merupakan ibadah yang juga menduduki posisi penting bagi Jama’ah selain salât. Lafaz zikir yang selalu mereka lakukan adalah istighfar, tahmid, tasbih, takbir dan tahlil. Berdoa juga mereka lakukan secara teratur untuk membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Allah. Mereka berdoa dengan memenuhi adab-adabnya, yaitu: menyesuaikan waktu, tempat dan situasi untuk berdoa, mengangkat tangan, menghadap kiblat, yakin bahwa doa akan terkabul.

Membudayakan salam merupakan aktifitas yang selalu dilakukan oleh Jama’ah Tabligh bukan saja terhadap sesama anggota tetapi juga terhadap sesama Muslim.

Setiap anggota Jama’ah Tabligh dilatih dengan pendekatan praksis untuk senantiasa beribadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Mereka saling mengingatkan satu sama lain tentang pengamalan ibadah-ibadah ini. Setiap anggota dilatih untuk mampu menyampaikan risalah dakwah tanpa mengenal batasan tingkat pendidikan formal maupun keluasan ilmu pengetahuan keislaman yang dimiliki. Bagi Jama’ah Tabligh, berdakwah bukan hanya dalam batas peribadatan, tetapi juga dengan memberikan teladan yang baik (uswatun hasanah) dalam berakhlak.

Dalam bertutur sapa, Jama’ah Tabligh selalu memulai dengan menyebut asma dan sifat Allah. Misalnya mengucapkan Insya Allah bila berjanji atau merencanakan suatu kegiatan, alhamdulillah bila mendapatkan nikmat dan hal yang menyenangkan mereka atau menyenangkan orang lain, subhanallah bila mereka salut dan Allah Akbar bila mereka takjub akan kebesaran Allah. Dalam bertutur kata mereka cenderung randah hati, sopan dan menghargai pendapat orang lain, tidak cepat marah dan kalimat yang mereka ucapkan menyenangkan hati. Sedangkan dalam berbincang-bincang mengenai masalah agama dan dunia mereka seakan pasrah.

Dalam berpakaian dan berhias Jama’ah Tabligh lebih senang memakai gamis/jubah yaitu baju panjang sampai ke lutut dan dengan celana yang tidak sampai mata kaki. Karena mereka beranggapan bahwa memakai celana yang lewat mata kaki tempatnya di neraka. Jama’ah Tabligh mewajibkan bagi kalangan wanita mereka untuk menutup auratnya kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian ini mereka gunakan dalam semua aktifitas. Selain itu bagi laki-laki memakai lobe dan serban, namun lobe lebih sering digunakan untuk semua kegiatan sedangkan serban lebih sering digunakan saat mendengarkan pengajian. Mereka selalu menggunakan parfum yang bebas alkohol, menggunakan celak. Dalam menggosok bersugi, selain menggunakan sikat dan odol mereka juga menggunakan kayu siwak.

Dalam berjalan Jama’ah Tabligh selalu menundukkan kepalanya, hal ini dilakukan guna menghindarkan mata dari kemungkinan melihat hal-hal yang mungkar atau yang membangkitkan syahwat. Walaupun hal-hal semacam itu dinyatakan sebagai dosa kecil namun bila hal ini dilakukan terus menerus tentu dosa tersebut akan menjadi besar.

Dalam ta’lim mereka selalu mendekat dan merapat kepada nara sumber. Kegiatan ta’lim biasanya dilakukan setiap selesai salât fardhu. Umumnya salah seorang dari mereka menjadi “moderator” dan secara bergantian membaca kitab-kitab tertentu lalu mendiskusikannya. Bila mereka sedang muqim di suatu mesjid biasanya mereka akan memberikan ta’lim kepada jama’ah salât dengan menyampaikan satu hadits atau ayat al-Qur’ân. Dalam mendengarkan ta’lim mereka selalu menunduk, baik bila mereka memahami isi ta’lim maupun tidak.

Dalam Jama’ah Tabligh setiap anggota wajib memiliki sebuah buku, minimal Fadhilah Amal untuk bahan bacaan di rumah. Hal ini untuk menutupi sifat manusia yang pelupa agar tidak melupakan ajaran-ajaran Islam.

Saat makan mereka berkumpul membentuk lingkatan mengelilingi satu wadah – biasanya talam – dan mereka menggunakan tiga jari untuk menyuap nasi dan tidak menggunakan alat bantu makan seperti sendok, garpu. Adab duduk tatakala makan adalah menduduki kaki kiri dan kaki kanan dalam posisi seperti jongkok. Mereka tidak pernah menyisakan apapun dalam piring mereka, meskipun itu sebutir nasi. Sebagaian mereka hanya mempraktekkan cara makan ini tatkala di luar rumah, namun bila mereka berada di rumah mereka makan seperti umumnya orang lain makan, dengan lima jari atau menggunakan alat bantu makan, dan duduk bersila atau di atas kursi. Yang terasa dari makan bersama adalah pembentukan kebersamaan dan ukhuwah yang semakin tinggi.

Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dibentuk oleh setiap Jama’ah Tabligh. Kesederhanaan ini bukan saja dalam berpakaian dan makan, namun juga tidak membelanjakan harta dengan sia-sia tanpa manfaat bagi agama Islam.

Mengeluarkan harta di jalan Allah merupakan sikap yang terus menerus mereka pupuk dalam upaya menegakkan syiar dan kejayaan Islam.

Aktifitas-aktifitas lain yang mereka lakukan antara lain:

Musyawarah harian dan mingguan

Khususi, yaitu melakukan kunjungan atau silaturahmi dengan orang-orang islam yang ada di tempat yang mereka tuju.

Khuruj, yakni kegiatan dakwah yang dilakukan di luar lokasi tempat tinggal.

Jaulah, yakni kegiatan yang dilakukan secara berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mengajak umat Islam salât di mesjid sekaligus untuk mendengarkan bayan atau ceramah agama yang disampaikan setelah salât fardhu.

Ta’lim, yakni penyampaian materi dengan menelaah kitab-kitab tertentu yang berhubungan dengan keutamaan-keutamaan amal.

Bayan setelah salât fardhu. Ini dilakukan bukan saja saat mereka di Mesjid, sebagian anggota Jama’ah Tabligh juga melakukan bayan di rumah setiap hari, umumnya setelah salât Maghrib.

Malam markas, yaitu pertemuan yang dilakukan pada malam hari oleh anggota Jama’ah Tabligh. Kegiatan ini dilakukan seminggu sekali dimulai dari sesudah ‘Asar sampai menjelang Zuhur keesokan harinya.

Masturah, yakni kegiatan dakwah bagi sepasang suami istri. Bila wanitanya adalah anggota Jama’ah Tabligh dan suaminya bukan, maka ia harus menyertakan suaminya dan atau keluarga mereka yang wanita. Kegiatan ini hanya boleh dilakukan bagi mereka yang sudah berkeluarga dan disertai suami.

Bila diuraikan secara spesifik, metode atau cara-cara yang diterapkan Jama’ah Tabligh dalam transformasi ajaran Islam untuk mencapai tujuan dakwah antara lain:

Metode uswah/teladan
Metode ceramah
Metode mengajak.
Metode muzakarah.
Metode taskil
Metode dor to dor
Metode maw’idzah/pengajaran
Metode Tabsyir
Metode indzâr
Metode Kisah-kisah.
Metode Nasihat.
Metode Pembiasaan.

Respon Masyarakat

Respon masyarakat terhadap Jama’ah Tabligh yang dapat dikategorikan sebagai berikut:

Menolak

Tingkat penolakan yang paling ekstrim adalah yang menyatakan bahwa Jama’ah Tabligh adalah aliran sesat, sebagian menyatakan bahwa Jama’ah Tabligh tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini mereka nyatakan karena melihat fenomena bahwa sebagian anggota Jama’ah Tabligh yang mengabaikan dan menelantarkan keluarga, menelantarkan studi, dan meninggalkan pekerjaan.

Menerima secara aktif.

Anggota masyarakat jatuh cinta kepada gerakan dakwah Jama’ah Tabligh dan kemudian mengikuti kegiatan dakwah saat mereka berdakwah di lokasi tempat tinggalnya. Ini kemudian diteruskan dengan keikutsertaannya menjadi anggota Jama’ah Tabligh. Mereka yang menerima aktif ini dapat dikategotikan dalam tiga latar belakang:

Golongan yang memang sudah menjalankan ibadah Islam dengan baik namun kemudian merasakan kelezatan iman yang lebih tinggi saat mengikuti kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh.

Golongan yang masih labil pelaksanaan ajaran Islam yang kemudian termotivasi karena selama pergaulannya dengan anggota Jama’ah Tabligh mengalami pengingkatan keislaman dan keimanan.

Golongan yang sama sekali tidak mengamalkan ibadah atau ajaran Islam dan bahkan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam yang kemudian selama pergaulan dengan anggota Jama’ah Tabligh mengalami pencerahan spiritual.

Menerima dengan pasif.

Yakni anggota masyarakat yang tercerahkan dengan kehadiran Jama’ah Tabligh dan selalu hadir dalam pengajian Jama’ah Tabligh di daerahnya namun tidak terlibat aktif dalam aktifitas dakwah.

Acuh tak acuh.

Ini adalah golongan yang baginya ada atau tidak Jama’ah Tabligh di daerahnya dia tidak ambil pusing, tidak menolak dan tidak menerima, dan tidak memberikan komentar dan respon apapun.

Kritik masyarakat terhadap Jama’ah Tabligh adalah: Pertama, Jama’ah Tabligh hendaknya sebelum melakukan dakwah keluar meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga, dan bagi yang sudah berkeluarga hendaknya tidak meninggalkan keluarga lebih dari satu minggu. Kedua, Jama’ah Tabligh jangan melupakan membimbing keluarga dalam keislaman, jangan terlena mendakwahi orang lain tapi melupakan keluarga. Ketiga, tidak membolehkan anak-anak turut dalam kegiatan dakwah karena hal ini memberatkan anak-anak khusunya bagi anak-anak yang masih bersekolah. Keempat, hanya membolehkan para pelajar berdakwah keluar saat mereka sedang libur sekolah. Kelima, menekankan kepada anggotanya akan pentingnya pencapaian dunia, kesalahan bukan terletak pada pencapaian dunia melainkan pada penggunaan pencapaian dunia itu untuk tujuan di luar jalan Allah. Keenam, tidak membolehkan anggota yang pengetahuan keislamannya rendah berdakwah karena dapat menyesatkan umat. Ketujuh, mengarahkan anggotanya pada rujukan-rujukan sumber ajaran Islam, al-Qur’ân dan Hadits yang benar, bukan hadits-hadits yang lemah apalagi palsu. Kedelapan, meskipun Jama’ah Tabligh tidak membicarakan dan terlibat politik namun harus memberikan kemerdekaan bagi anggotanya untuk berkegiatan politik, karena kekuasaan itu juga dapat digunakan untuk penyebaran Islam, khususnya untuk menegakkan khilafah islamiyah. Kesembilan, upaya mewajibkan anggota untuk bertaqlid bertentangan dengan ititba’. Kesepuluh, Jama’ah Tabligh terlalu terfokus pada kesalehan individual dengan mengabaikan aspek-aspek politik, jihad, dan ekonomi. Kesebelas, Jama’ah Tabligh terlalu sempit dalam memahami dakwah yang terbatas pada bidang yang parsial dan tidak universal. Dan pola dakwah yang mereka terapkan masih konservatif dengan hanya melanjutkan dan mempertahankan segala sesuatu yang menjadi kebiasaan Rasulullah saw tanpa ada usaha untuk melakukan ijtihad dengan menyesuaikan dengan keadaan yang berlaku di zaman sekarang.

KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai lembaga dakwah yang berasal dari Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India., Jama’ah Tabligh terdiferensiasi dengan lembaga-lembaga lainnya dalam beberapa hal:

Lahir bukan atas latar belakang politis dan menjauhi hal-hal yang berhubungan dengan politik dan bahkan melarang anggotanya untuk tidak terlibat dalam politik.

Garis kerja dakwah (hirarki) tidak sama dengan lembaga lain baik dalam sistem dan peraturannya, serta kualitas pengorbanan harta, jiwa, raga, dan waktu dalam berdakwah.

Sikap dan prilaku yang diaktualisasikan sebagai Muslim dengan menjalankan amalan-amalan wajib dan sunnah serta meninggalkan hal-hal yang sia-sia/tidak bermanfaat selama 24 jam.

Karakteristik kepribadian islami yang kemudian menjadi budaya jama’ah tercermin dari ketulusan hati, tanggung jawab, integritas, kejujuran, kecermatan, menepati janji, mengontrol diri, rendah hati, sabar, tabah, berani, sederhana, kerja keras dan persaudaraan. Kesemuanya tertuang secara melembaga dalam adab-adab ushul dakwah, khidmat, ikrâm, dan tasykil.

Selain dakwah melalui komunikasi kepada masyarakat mereka juga berdakwah melalui pelestarian nilai-nilai dan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dimana mereka berada.

Perilaku interpersonal anggota Jama’ah Tabligh memberikan penguatan (reinforcement) dan dorongan dalam mewujudkan interaksi kelompok dalam keberagamaan.

Realisasi ajaran-ajaran Islam yang dilakukan bukan sekedar ritual mekanis melainkan lebih dari itu merupakan upaya pelestarian dan perbaikan individu dan masyarakat.

Dalam transformasi nilai-nilai dan ajaran Islam Jama’ah Tabligh menerapkan berbagai metode dakwah.

Dari sisi transformasi nilai-nilai dan ajaran Islam, Jama’ah Tabligh mengaplikasikan behavioral learning ini sebagai berikut:

Pengalaman-pengalaman baru yang dibentuk adalah pengalaman-pengalaman yang melahirkan ketenangan jiwa dalam pengamalan ajaran-ajaran Islam, yang selanjutnya menghasilkan internalisasi nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam dalam diri setiap Muslim.

Asosiasi baru yang dibentuk adalah asosiasi yang positif dan membahagiakan antara kognisi, afeksi, emosi, dan psikomotor seorang Muslim dengan agama Islam.

Kecenderungan baru yang akan dibentuk adalah kecenderungan untuk selalu menggapai ridha Ilahi dengan melakukan amalan-amalah shalih dimanapun berada, baik di rumah, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, mesjid, lingkungan belajar, Dan sebagainya.

Habitat baru yang dibentuk adalah habitat /masyarakat terbaik atau masyarakat Muslim yang menyahuti tuntutan Allah.

Dalam mengkaji respon masyarakat terhadap Jama’ah Tabligh harus dilihat secara objektif, terbuka, toleran, dengan pemaham luas tentang Jama’ah Tabligh, dan dengan melihat latar belakang anggotanya secara individual. Hal ini perlu, mengingat pandangan negatif tentang Jama’ah Tabligh sebagian dihasilkan karena kesalahan generalisasi, yakni menjadikan kasus perorangan berlaku untuk semua anggota Jama’ah Tabligh.

Secara umum, hasil yang dicapai bagi setiap individu dan masyarakat sasaran dakwah Jama’ah Tabligh dapat dirangkumkan sebagai berikut:

Masyarakat semakin gemar melakukan amal ibadah.
Salât berjamaah semakin hari semakin hidup di mesjid.
Peningkatan jumlah jama’ah mesjid.
Suasana keislaman di masyarakat mulai hidup.
Penurunan tingkat kenakalan remaja
Semangat menggali pengetahuan keislaman semakin tinggi
Peningkatan ukhuwah islamiyah dan silaturahmi.

Dari pantauan berkala di masyarakat, penulis melihat bahwa hasil di atas relatif tidak permanen bagi sebagian besar anggota masyarakat. Beberapa hari setelah Jama’ah Tabligh meninggalkan lokasi, hanya sebagaian kecil anggota masyarakat yang tetap menunjukkan hasil pendidikan dakwah Jama’ah Tabligh tersebut. Namun bagi warga masyarakat yang kemudian terus mengikuti kegiatan dakwah mereka dan apalagi bagi anggota Jama’ah Tabligh hasil di atas bersifat permanen, bahkan terus menerus ditingkatkan.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prilaku dalam bentuk aktifitas keagamaan yang dibudayakan Jama’ah Tabligh merupakan salah satu bentuk terapi kesehatan jiwa dari perspektif Psikologi Agama. Mereka adalah orang-orang yang telah didakwahi dan kemudian mendakwahi, diobati dan kemudian mengobati, diishlahkan kepribadiannya dalam pelukan iman dan kemudian mengishlahkan orang lain. Mereka adalah orang-orang yang meleburkan ego individunya dan membentuknya menjadi suatu impresi keanggotaan kolektif. Sehingga dakwah yang dilakukan tidak lagi dipandang sebagai aktifitas individu melainkan aktifitas kelompok. Kebanggaan individu lebur menjadi kebanggaan kelompok yang selanjutnya akan membentuk kebanggaan keislaman. Dari sisi ini dan dari sisi bahwa aktifitas-aktifitas Jama’ah Tabligh menyebar di masyarakat, maka dapat dikatakan mereka adalah “dokter” kesehatan jiwa masyarakat.

Pustaka Acuan

Baron, Robert A. dan Donn Byrne, Social Psychology: Understanding Human Interaction, Edisi VI, Boston: Allyn and Bacon, 1991.
Bischof, Ledford J., Adult Psychology, edisi 2. New York: Harper and Crow, 1976.
Bodgan, Robert dan Steven J. Taylor, Kualitatif: Dasar-dasar Penelitian, terj. A. Khozin Afandi, Surabaya: Usaha Nasional, 1993.
Crapps, Robert W., An Introduction to Psychology of Religion, Macon, Georgia, Mercer University Press, 1986.
David, Linda L., Introduction to Psychology, edisi 3, New York: McGraw-Hill, Inc., 1976.
Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, jilid 2, Jakarta: Anda Utama, 1993.
Erikson, E. H., The Life Cycle Completed: A Review, New York: W.W. Norton, 1982.
Frager, Robert, Heart, Self, and Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance and Harmony, terj. Hasmiyah Rauf, Jakarta: Serambi, 2002.
Fromm, Erich, Psychoanalysis and Religion, New Haven: Yale University Press, 1950.
Fromm, Erich, The Art of Loving, New York: Harper and Row, 1956.
Gazalba, Sidi, Mesjid Sebagai Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1975.
Goldman, Ronald, Religious Thinking from Childhood to Adolescence, New York: Seabury Press, 1964.
Hassan, A., Tarjamah Bulughul Maram, Bandung: Diponegoro, 1983.
Henderson, Joseph L., Cultural Attitudes in Psychological Perspective, Toronto: Inner City Books, 1983.
Huberman, A. Michael dan Mathew B. Miles Analisis Data Kualitatif, terj. Tjetjep Rohendi Rohidi, Jakarta: UI Press, 1992
Hurlock, Elizabeth B., Developmental Psychology: A Life Span Approach edisi V, terj. Istiwidayanti dan Soedjarwo, Jakarta: Erlangga, 1994.
Ibrahim, Edi Subandy, dkk, Ekstasi Gaya Hidup: Kebudayaan Populer dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Bandung: Mizan, 1997.
Jalaluddin, Psikologi Agama, Edisi Revisi, Jakarta: Rajawali Press, 2004.
an-Nadwi, Abul Hasan Ali, Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, edisi terjemahan, cet 1, Darun Nukman: Kuala Lumpur, 1991.
O’Dea, Thomas F., The Sociology of Religion, New Jersey: Prentice Hall, 1966.
Piaget, Jean Piere, The Moral Judgment of the Child New York: Harcourt, Brace and World, 1932.
Scobie, Geoffrey E.W., Psychology of Religion, London: B.T. Batsford, 1975.
Spilka, Bernard, dan Daniel N. McIntosh, The Psychology of ReligionL Theoritical Approach, Colorado: Westview Press, 1997.
Tajfel, Henri, The Social Dimension, jilid I, Cambridge: Cambridge University Press, 1984.
Thoules, Robert H., An Introduction to Psychology of Religion, Cambridge: Cambridge University Press, 1979.
Weiten, Wayne, Psychology Applied to Modern Life, Edisi II, California: Brooks/Cole Publishing Company, 1985.
Yinger, J.M., Religion, Society and the Individual, New York: Macmillan, 1957.

PENELITIAN UGM MENGENAI JAMAAH TABLIGH

(Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam 4th International Symposium of Journal Antropologi Indonesia July 12-15, 2005 di UI Jakarta).

A. PENDAHULUAN

Makalah ini berusaha mengkaji fenomena gerakan dakwah Islam yang menamakan dirinya “Jama’ah Tabligh”. Komunikasi terjadi antara saya dengan anggota Jama’ah Tabligh ketika mereka secara sengaja mendatangi rumah saya di Yogyakarta. Dalam kurun waktu 8 tahun, sudah sekitar 4 kali Masjid di tempat saya tinggal didatangi oleh Jama’ah Tabligh. Setiap kali anggota Jama’ah Tabligh menginap di Masjid dekat rumah saya, mereka hampir tiap malam datang ke rumah saya dan rumah-rumah tetangga yang bergama Islam. Ada beberapa keunikan yang menjadi identitas Jama’ah Tabligh, mulai dari penampilan, cara berpakaian, kebiasaan keluar rumah untuk berdakwah selama berhari-hari, cara makan bersama, metode berdakwah, hingga menghindari politik dan kekerasan dalam berdakwah Islam.

“Jama’ah” secara harfiah sering disamakan dengan kelompok atau bersama-sama, misalnya sholat berjama’ah artinya sholat bersama-sama yang dipimpin oleh seorang imam dan diikuti oleh para makmum. Kata “tabligh” adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW dari empat sifat beliau (sidiq = benar, amanah = bisa dipercaya, fathonah = cerdas, dan tabligh = menyampaikan). Tabligh atau menyampaikan dalam hal ini adalah menyampaikan dakwah ajaran-ajaran agama Islam kepada orang lain. Hal ini kalau kita bahas tentang asal kata dari Jama’ah Tabligh. Pada aspek penampilan, cara berpakaian para karkun (bhs. India) yaitu para aktifis Jama’ah Tabligh tampak khas.

Para lelaki biasanya berpakaian dominan warna putih dengan baju “Afghani clothes” atau baju Afghanistan yang biasa dipakai oleh orang-orang Afganistan, India, Pakistan, dan Banglades. Ada juga warna baju lain seperti coklat, biru, hitam, dll. Baju ini berlengan panjang, dan menjulur ke bawah sampai lutut dengan belahan disisi kiri bawah dan kanan bawah. Istilah model baju ini saya dengar dari laki-laki pedagang baju di Mekah saat kami sekeluaraga pergi haji ke Mekah pada tahun 1998. Menurut si pedagang baju itu, Afghani clothes berbeda dengan “gamis” yang biasa dipakai oleh para pria Arab. Gamis adalah baju yang menjulur ke bawah sampai hampir menutupi mata kaki, biasanya berwarna putih dan berlengan panjang. Para istri dari karkun ini biasanya berjilbab dan memakai cadar (penutup wajah), mereka lebih banyak tinggal di rumah dan menjadi manajer rumah tangga. Para suami lebih banyak berada di luar rumah untuk mencari rejeki dan berdakwah agama Islam.

Jama’ah Tabligh didirikan oleh Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy pada tahun 1920-an (?) di Uttar Pradesh, India. Sebagian besar pengikutnya berada di India, Pakistan, dan Bangladesh. Sejak 1980-an organisasi dakwah ini melebarkan sayapnya ke Timur Tengah, Asia Tenggara (terutama Indonesia, Malaysia, Thailand), Australia, dan Amerika (Majalah GATRA, 27 November 2004). Walaupun para pengikut Jama’ah Tabligh berasal dari berbagai negara akan tetapi gaya berpakaian mereka cenderung sama yaitu lebih suka memakai Afghani clothes, dari pada memakai gamis.

B. PEMBAHASAN

Berawal dari sebuah peristiwa saat mengikuti kursus persiapan masuk perguruan tinggi di Yogyakarta, salah satu tentor mengajak dan setengah memaksa kepada saya untuk mendatangi pengajian di Masjid Al-Ittihad di Jalan Kaliurang Yogya. Saat itu saya tidak mau. Lain waktu tetangga saya juga pernah mengajak dengan setengah memaksa untuk mendatangi pengajian di Masjid Al-Ittihad di Jalan Kaliurang Yogya. Saya tetap tidak mau dengan berbagai alasan yang saya sampaikan.

Mulai saat itu saya bertanya-tanya di dalam hati, sebenarnya pengajian di tempat itu model pengajian seperti apa ? Apakah sebuah pengajian Islam sempalan seperti yang banyak dibicarakan orang? Pertanyaan itu terjawab setelah beberapa tahun berlalu yaitu pada saat saya telah hampir selesai kuliah di Jurusan Antropologi UGM. Beberapa orang laki-laki dengan baju khas dan sebagian memakai sorban (ikat kepala) dengan membawa alat-alat masak serta perlengkapan makan mohon ijin kepada pemuka masyarakat untuk bermalam sekitar 3 hari di Masjid Kampung saya tinggal.

Ketua Takmir Masjid dan Ketua RW pada awalnya ragu-ragu karena penampilan para pendatang itu terlihat asing, mungkin ada perasaan khawatir dan curiga menghinggapi perasaan para tokoh masyarakat di kampung saya itu. Ketika wakil dari orang-orang asing itu datang ke rumah saya untuk minta ijin kepada saya karena saya sebagai ketua pemuda kampung, saya langsung mengijinkan. Dalam pikiran saya inilah kelompok pengajian yang dahulu setengah memaksa saya untuk bergabung dengan mereka, saat inilah saya bisa tahu lebih banyak keberadaan mereka.

Di depan jama’ah sholat magrib setelah sholat berlangsung, saya katakan bahwa “innamal mukminuna ikhwah, bahwa semua orang Islam itu bersaudara” sehingga saudara yang datang dari jauh perlu disambut kedatangannya. Akhirnya diterimalah mereka menginap di masjid kami, akan tetapi ada juga satu dua warga yang tetap curiga dan menolak mereka walaupun pendapat mereka ini tidak bisa diwujudkan. Kecurigaan terhadap sesama orang Islam ini karena didasari oleh ketidaktahuan, lebih dari itu adalah wacana yang dikembangkan pada jaman Orde Baru bahwa Islam di Indonesia hanya ada 2 yaitu Islam tradisional yaitu NU dan Islam modern yaitu Muhamadiyah.

Dikotomi Islam yang mengkutub pada Gerakan Muhamadiyah dan Nahdhatul Ulama yang menjadi simbol Islam Modernis dan Islam Tradisional selama puluhan tahun telah menjadi wacana baku dalam mengkaji Islam di Indonesia. Orang selalu saja mengkaitkan Islam dengan Muhamadiyah dan NU. Jika ada gerakan atau kelompok di luar Muhamadiyah dan NU maka akan segera dicap sebagai Islam sempalan, dan lebih ekstrem lagi dicap sebagai Islam aliran sesat yang harus dilarang dan dibubarkan. Mengapa Muhamadiyah dan NU menjadi mainstream wacana Islam di Indonesia? Apakah karena jumlah masa yang besar ?

Jawabannya, bahwa Muhamadiyah dan NU selain karena jumlah masanya yang besar, juga karena kedua organisasi Islam itu mau mendukung penguasa Orde Baru. Beberapa orang pemerintah ditempatkan menjadi pengurus di kedua organisasi itu. Penerimaan Pancasila oleh Muhamadiyah dan NU sebagai satu-satunya azas adalah simbol ketundukan kedua organisasi itu terhadap kekuasaan pemerintah Orde Baru. Dalam konteks ini Pancasila diposisikan sebagai totem, atau malah sebagai sebagai “agama” yang dipaksakan oleh oleh pemerintah untuk diterima oleh semua lapisan masyarakat. Pada sebagian orang muslim fenomena itu adalah proses pemusrikan pada orang Islam di Indonesia.

Sejak kekuasaan Orde Baru tumbang pada 21 Mei 1998 yang membuka kran keterbukaan termasuk dalam beragama Islam, mulailah bermunculan gerakan Islam di luar mainstraim NU dan Muhamadiyah. Contoh gerakan itu antara lain; Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi dengan Laskar Jihad-nya, FPI, Majlis Mujahidin, Jama’ah Tabligh, dll. Reformasi 1998 juga telah memutar pendulum wacana Islam di Indonesia dari wacana Islam tradisional vs Islam modern, bergeser menjadi wacana Islam kaaffah vs Islam moderat.

Berbagai kelompok Islam ini–walau tidak semuanya–mewakili sayap Islam kaffah yaitu berusaha mengimplementasikan syariat atau ajaran Islam ke dalam hidup sehari-hari secara kaaffah atau secara utuh dan menyeluruh. Ajaran Islam coba mereka aplikasikan dalam kehidupan di dalam rumah tangga, di dalam proses perdagangan/perniagaan, di kantor, atau di tempat-tempat umum seperti terminal atau bandar udara secara damai dan tidak mengganggu hak-hak orang lain. Sikap toleransi sosial (tasamuh) juga hidup subur di dalam komunitas Islam ini. Di sisi lain seperti NU dan Muhamadiyah dan yang lain menempatkan diri pada posisi Islam moderat, yang ingin menerapkan ajaran atau syariat Islam dengan menyesuaikan kondisi masyarakat kekinian. Gerakan Islam Liberal yang dipelopori oleh Ulil Absar Abdalla di Jakarta juga menjadi fenomena menarik untuk dikaji lebih mendalam pada kesempatan lain.

Jama’ah Tabligh dalam hal ini termasuk pada posisi Islam kaafah. Kelompok-kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia, Salafi, FPI, Majlis Mujahidin, atau Jama’ah Tabligh dll. tidak semuanya berdiri setelah Orde Baru tumbang. Sebagian sudah ada dan berdakwah secara bawah tanah serta melakukan kaderisasi secara intensif, misalnya Gerakan Tarbiyah yang sudah muncul sejak tahun 1970-an secara bawah tanah dan meminjam model pembinaan kader dari model gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Gerakan Tarbiyah ini pada awal kemunculannya di tahun 1998 melalui “wajah” KAMMI (Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia) dengan ketuanya Fahri Hamzah, kader jebolan Gerakan Tarbiyah.

KAMMI yang diback-up para senior Gerakan Tarbiyah bertransformasi menjadi Partai Keadilan (PK). PK tidak mencapai electoral thresshold pada pemilihan umum 1999 sehingga bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Organisasi Salafi juga sudah muncul sejak jaman Orde Baru dengan pusatnya di Pondok Pesantren Ihya’us Sunnah di Sleman Yogyakarta di bawah pimpinan Ustadz Ja’far Umar Tholib. Di bawah Ja’far Umar Tholib organisasi ini menjadi terkenal karena pembentukan Laskar Jihad Ahlus Sunah Wal Jama’ah (ASWJ) yang dikirim ke medan perang di Ambon dan Maluku.

Ada juga Salafi yang berpusat di Pondok Pesantren Jamilurrohman di Jalan Imogiri Bantul Yogyakarta di bawah Ustadz Abu Nida. Jama’ah Tabligh juga sudah muncul sejak jaman Orde Baru, di Yogyakarta pusat aktifitasnya adalah Masjid Al-Ittihad di Jalan Kaliurang di dekat kampus UGM Yogyakarta. Ini adalah contoh beberapa gerakan atau organisasi yang selamat dari tangan kejam pemerintah Orde Baru. Gerakan Islam atau kelompok Islam yang pernah dihancurkan oleh pemerintah karena dicap sebagai Islam sempalan misalnya adalah kelompok Islam di Lampung yang dipimpin oleh Warsidi. Kelompok ini kemudian diberi stigma sebagai Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK) Warsidi, diserbu oleh aparat keamanan dan yang masih hidup dibawa ke pengadilan.

Contoh lain adalah kelompok Haur Koneng di Jawa Barat juga dibubarkan oleh pemerintah, atau Islam Jama’ah yang kemudian berganti nama menjadi LEMKARI dan kini bernama LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Istilah GPK adalah stigma yang dipropagandakan oleh pemerintah orde baru sehingga berlanjut dengan terbentuknya public opinion, bahwa pihak yang dicap sebagai GPK memang musuh pemerintah, musuh negara, dan musuh masyarakat sehingga harus dihancurkan. Ternyata masyarakat biasanya mendukung sikap pemerintah itu. Stigma atau label sebagai GPK identik dengan istilah ekstrimis pada jaman perang kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949. Rakyat Indonesia yang melawan pemerintah kolonialis Belanda dengan mengangkat senjata dicap sebagai kaum ekstremis oleh penguasa kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia pasca Perang Dunia II.

Istilah ekstremis ini diadopsi oleh pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dengan munculnya stigma ekstrem kiri bagi pihak oposisi yang berbasis pada pemikiran sosialisme dan marxisme, dan ekstrem kanan bagi oposan dengan basis pemikiran dari ajaran Agama Islam. Pada era kekinian terjadi metamorfosis stigma yaitu kaum teroris bagi umat Islam yang berani melawan peradaban Barat dengan mengangkat senjata. Berbagai stigma di muka apabila kita lihat secara teliti ternyata terdapat pola yang sama. Stigma sebagai ektremis, ektrem kanan dan ekstrem kiri, Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK), maupun teroris pada dasarnya diciptakan oleh pihak pemegang kekuasaan. Logika kekuasaan di mana kekuasaan yang ada di tangan mereka selalu terancam oleh pihak oposisi, memotivasi para penguasa untuk meniadakan penentangan dan perlawanan dengan cara yang keras dan kejam terhadap para penentang penguasa.

Kaum oposan yang telah berani melawan pemegang kekuasaan karena kekuasaan dianggap telah membelenggu dan menindas mereka, sebelum secara fisik dihancurkan oleh para penguasa maka terlebih dahulu dihancurkan citranya (image-nya) dengan membentuk opini publik. Apabila opini publik telah terbentuk di masyarakat secara luas maka penghancuran fisik seperti penyerbuan oleh aparat keamanan dan menyeret ke pengadilan terhadap para penentang pemerintah ke pengadilan. Di sini opini publik berfungsi sebagai alat legitimasi bagi penindasan oleh penguasa terhadap kaum oposan. Terbentuknya opini publik tidak bisa dilepaskan dari peran media massa baik media massa cetak maupun media massa elektronik. Media massa menjadi jembatan yang menghubungkan dan menyebarluaskan opini dari pembuat opini kepada khalayak.

Opini publik tentang Jama’ah Islamiah (JI) yang dibangun oleh pemerintah Amerika Serikat dan diamini oleh banyak penguasa di berbagai negara di Asia Tenggara, sedikit banyak ternyata mendapat counter opinion (opini tandingan) dari masyarakat Islam secara luas. Diksi atau pilihan kata Jama’ah Islamiyah mungkin saja terdapat maksud untuk menggiring memori masyarakat terhadap organisasi Islam Jama’ah yang berpusat di Kediri, Jawa Timur pada masa Orde Baru. Karena memiliki citra buruk maka Islam Jama’ah berganti nama menjadi LEMKARI, kemudian berubah lagi menjadi LDII sampai sekarang. Sebagai siasat untuk bisa tetap eksis maka LDII berlindung di bawah GOLKAR dan massa LDII menjadi underbow GOLKAR. Jama’ah Islamiyah berbeda dengan Islam Jama’ah yang citranya buruk.

Terlepas ada atau tidak organisasi Jama’ah Islamiyah (JI) di Asia Tenggara, di balik frase Jama’ah Islamiyah terkandung makna bahwa Jama’ah Islamiyah itu artinya adalah kelompok, golongan atau semua orang yang beragama Islam. Ketika Jama’ah Islamiyah yang maknanya secara luas adalah “semua orang Islam”, dicap sebagai kaum teroris maka banyak orang yang buta politik seperti saya, merasa sakit hati terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Umat Islam yang berusaha melaksanakan ajaran Islam secara baik dengan mencintai Allah (hablumminallah) dan mencintai sesama manusia (hablumminannas) mengapa dikatakan sebagai kaum teroris yang menghancurkan kehidupan manusia?

Jama’ah Tabligh yang menjadi sentra kajian tulisan ini juga telah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Jamaah Tabligh di mata saya adalah sebuah gerakan penyebaran agama Islam yang berusaha terus menerus merekrut anggota dengan jalan persuasif. Selama kurun waktu 8 tahun kelompok jamaah Tabligh ini sudah sekitar 4 sampai 5 kali menginap di masjid kampung saya untuk menyebarkan dakwah Islam. Model dakwah mereka ada yang dinamakan “jaulah” dan “khuruj”. Jaulah adalah berkeliling mendatangi rumah-rumah orang Islam yang terletak di sekitar masjid tempat para karkun itu menginap. Mereka ini bersilaturahmi (menjalin hubungan persaudaraan) dan kemudian menyampaikan kebaikan-kebaikan ajaran Islam. Khuruj adalah keluar atau meninggalkan lingkungan sehari-hari dengan tujuan menyampaikan dakwah Islam. Bisa saja mereka meninggalkan lingkungan tempat tinggal dan keluarga, meninggalkan pekerjaan, dan secara berjamaah pergi ke luar kota, atau keluar propinsi atau bahkan ke luar dari batas negara. Biasanya mereka berkhuruj selama 3 hari dalam satu bulan, 40 hari dalam satu tahun, atau 4 bulan selama seumur hidup.

Para karkun yang sering mengunjungi rumah saya di Yogyakarta sering berdiskusi sampai larut malam tentang berbagai hal terutama yang berhubungan dengan Islam. Mereka ada yang datang dari Yogyakarta, dari Jakarta, dari Lampung, atau dari Medan Sumatera Utara. Mereka berpandangan bahwa Islam adalah sistem hidup yang paling baik, maka berbahagialah orang Islam yang menjalankan ajaran agamanya. Mereka selalu mengajak memeluk ajaran Islam secara kaaffah yaitu menyeluruh, utuh, atau tidak sepotong-sepotong yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. “Udkhullu fisilmi kaaffah = masuklah ke dalam Islam secara kaaffah”, kata mereka dengan mngutip salah satu ayat di dalam Al-Qur’an. Mereka selalu saja tidak henti-hentinya mengajak solat wajib berjamah di masjid bagi laki-laki, selalu berbuat baik kepada sesama manusia tanpa membedakan agama, meninggalkan larangan-larangan agama, dan mereka juga tidak pernah mengatakan bahwa mereka berasal dari organisasi dakwah bernama Jama’ah Tabligh, mereka selalu mengedepankan kesatuan Islam.

Mungkin saja dengan meminggirkan identitas golongan mereka, mereka bertujuan untuk tidak terjebak pada perdebatan antar kelompok-kelompok Islam. Dengan bahasa dan penampilan yang rendah hati dan mempesona lawan bicara, mereka ini selalu menghindarkan diri dari khilafiyah (beda pendapat) dan menghindarkan diri dari siyasah (politik praktis). Walaupun tidak berpolitik praktis, akan tetapi pada saat memilih pemimpin mereka bermusyawarah dan bermufakat. Pemimpin bisa dipilih dengan cara itu, dan bisa diganti dengan cara yang sama. Siapa saja bisa menjadi pemimpin asalkan memiliki sifat-sifat sidiq = benar, amanah = bisa dipercaya, fathonah = cerdas, dan tabligh = menyampaikan. Seperti halnya pada saat solat berjamaah maka siapa saja bisa menjadi imam asalkan bisa melafalkan ayat-ayat Qur’an, dalam kondisi yang baik, dan dianggap mampu oleh makmum.

Dari fenomena Jamaah Tabligh ini apabila ada yang mengatakan bahwa sistem kekuasaan Islam itu anti demokrasi dan otoriter, tentu itu adalah pendapat yang sangat keliru. Sistem demokrasi “masyarakat Barat” seharusnya berani membuka hati bahwa secara antropologis, masyarakat Islam juga memiliki tata cara dan sopan santun dalam berdemokrasi. Masyarakat Islam tidak perlu dipaksa-paksa untuk menganut sistem “demokrasi ala Barat”. Bahkan secara ekstrem mereka orang Islam dicap sebagai kaum teroris yang harus diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi, hanya karena berusaha mempertahankan identitas sebagai masyarakat muslim.

Untuk kasus ini tentu saja para antropolog sedunia harus ikut turun tangan untuk memberikan penjelasan-penjelasan rasional, sistematis, dan jernih kepada para “pendekar demokrasi” ala Barat mengenai kerangka berpikir masyarakat muslim. Masyarakat muslim tentu tidak akan memerangi masyarakat penganut demokrasi barat apabila masyarakat muslim tidak “diganggu” kehidupannya. Kasus Jamaah Tabligh menunjukkan bahwa mereka selalu menghindari perbedaan pendapat, apalagi yang menjurus pada benturan fisik.

Bayan (ceramah, pengajian) yang disampaikan oleh ustadz tiap sehabis solat berjamaah yang dilakukan secara rutin pada komunitas Jama’ah Tabligh, biasanya berisi 6 hal standar yaitu; 1) keutamaan Laaillahaillallah Muhamadarrosulullah, 2) membesarkan nama Allah dengan cara menjalankan sholat secara khusuk, 3) ilmu dan dzikir, 4) ikram atau memuliakan sesama manusia, 5) mengikhlaskan niat, dan 6) pentingnya setiap muslim melakukan dakwah dan tabligh (Majalah GATRA, 27 November 2004).

Dari materi dakwah ini kita bisa melihat bahwa Jama’ah Tabligh tidak mengajarkan ummat Islam untuk memusuhi orang lain, tetapi selalu mengajarkan kebaikan. Para antropolog jangan mengulangi kesalahan besar seperti yang dilakukan oleh Snouk Horgronye seorang antropolog dari Belanda. Dia menyumbangkan ilmu antropologinya untuk terjadinya pembantaian Rakyat Aceh dan berujung pada penindasan dan penjajahan oleh Belanda terhadap Rakyat Aceh. Penulisan buku “Pedang Samurai dan Bunga Seruni (The Chrysanthemum and The Sword)” oleh seorang antropolog wanita dari Amerika Ruth Benedict, yang kemudian menjadi awal penghancuran Bangsa Jepang pada Perang Dunia II, tidak perlu diulangi oleh para antropolog kekinian.

Para antropolog jangan bersedia menjadi ahli kebudayaan tentang masyarakat Muslim yang telah diberi stigma sebagai teroris, demi kepentingan pemerintah Amerika, yang bisa berujung pada penghancuran masyarakat Muslim.

C. KESIMPULAN

Jama’ah Tabligh adalah potret dari gerakan dakwah Islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada wajah Jama’ah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindari khilafiyah (beda pendapat). Para aktivis Jama’ah Tabligh (karkun) secara rajin dan kontinyu ber-khuruj untuk menyampaikan dakwah Islam dengan cara yang mempesona, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam secara kaaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong.

Kamis, 21 Februari 2013

HAYYA ALAL JIHAD




Awal saya dulu kenal kitab Fhadilah amal, buku tersebut setiap babnya Satu buku. Maksudnya Fhadilah Shalat 1 buku, Fhadilah Al Qur'an 1 buku dst. Dulunya buku tesebut pun masih terjemahan Malaysia. Akhirnya buku tersebut digabung menjadi satu buku Fhadilah amal dan masih terjemahan Malaysia. Membaca buku Fhadilah Amal rasanya sangat berbeda sekali dibanding buku yang lainnya.

Rabu, 20 Februari 2013

VERSI “Terbaru” EBOOK PIKIR SESAAT UNTUK AGAMA 6.0 Update 20/02/2013




Dilengkapi dengan

ebook Fadhilah Amal
ebook Fadhilah Sedekah
ebook Fadhilah Haji
ebook Muntakhab Ahadits
ebook Riyadhus Shalihin

Bahasa Indonesia

1. ebook Adab Sunnah
2. ebook Athar dan Malfuzat
3. ebook Bayan
4. ebook Biografi
5. ebook Dakwah
5. ebook Hayatus Sahabah
7. ebook Hidayah
8. ebook Kargozari
9. ebook Kata-kata Mutiara
10. ebook Kenapa Saya Khuruj Fii Sabilillah
11. ebook Kisah
12. ebook Kisah dan Tamsil
13. ebook Kitab
14. ebook Malfuzat Maulana Ilyas
15. ebook Masturoh
16. ebook Melepas kedok jamaah tablig
17. ebook Mudzakarah
18. ebook Mutiara yang berserakan
19. ebook Nasehat
20. ebook Perkembangan Dakwah
21. ebook Tamsil
22. ebook Usaha Dakwah Dikalangan Artis
23. ebook Catatanku
Download ebook di

Senin, 11 Juni 2012

Keutamaan Memakai Sorban


 
 sorban adalah sunnah Rasul saw, melarang mengamalkan sunnah adalah hal yg berbahaya dan dosa besar, seluruh muslimin berhak mengikuti nabinya saw, namun ucapkan dg lemah lembut jangan sampai beliau tersinggung.
bib…ane mo nanya neh…penjelasan mengenai dasar hukum pemakaian peci untuk muslim baik di saat shalat maupun dalam kegiatan kesehariannya..?
banyak sekali hadits yg menjelaskan tentang sunnahnya peci/tutup kepala, dan memang itu kebiasaan Rasul saw dan para sahabat radhiyallahu’anum
diantaranya : Ibn Umar ra jika berwudhu ia mengangkat pecinya dan membasahi rambutnya (Sunanul Kubra oleh Imam Albaihaqi)
dari Said bin Abdillah bin Dhirar ra berkata : Aku melihat anas bin Malik keluar dari kakus dengan peci putihnya, lalu mengusap pecinya. (Mushannif Ibn Abdurrazzaq)
berkata Hisyam bin Urwah ra, kulihat Zubair ra melakukan tawaf dan ia memakai peci (Akhbar Makkah oleh Imam Al Faakihiy)Khalid bin Walid ra dalam peperangan Yarmuk, lalu ia mencari cari pecinya, dan tidak kunjung jumpa, maka peperangan berlangsung dan ia terus mencari pecinya hingga ia menemukannya, dan peci itu sudah usang, ia berkata : Aku hadir saat Rasul saw mencukur rambutnya, dan kutaruh sehelai rambut beliau saw dipeci ini, dan sejak itu aku selalu menang dalam peperangan (Ma’jamul Kabir oleh Imam Attabraniy)

Selasa, 15 Mei 2012

Jama'ah oh Jama'ah... Alhamdulillah

Download

Bayan Musyawarah Nizamuddin 1-4 okt 2011 format MP3  Download di 
atau bisa juga Download di folder 4share langsung masuk ke folder Musyawarah Nizamuddin 2011

VERSI “Terbaru” EBOOK PIKIR SESAAT UNTUK AGAMA 5.1 Update 27 Januari 2012

Dilengkapi dengan

ebook Fadhilah Amal
ebook Fadhilah Sedekah
ebook Fadhilah Haji
ebook Muntakhab Ahadits
ebook Riyadhus Shalihin

Bahasa Indonesia

1. ebook Adab Sunnah
2. ebook Bayan
3. ebook Biografi
4. ebook Dakwah
5. ebook Hayatus Sahabah
6. ebook Hidayah
7. ebook Kargozari
8. ebook Kitab
9. ebook Masturoh
10. ebook Melepas kedok jamaah tablig
11. ebook Mudzakarah
12. ebook Mutiara yang berserakan
13. ebook Perkembangan Dakwah
14. ebook Tamsil
15. ebook Catatanku

Jumat, 20 April 2012

40 keistimewaan Wanita Menurut Islam

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

~ 40 keistimewaan Wanita Menurut Islam ~


Semangat memperbaiki diri agar menjadi wanita solehah yang dicintai oleh Allah.

1. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang soleh.
2. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
3. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah.
4. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak pria. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah- olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S.
5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam syurga.